Kamis, 09 Agustus 2012

mata kuliah diagnostik anak

HASIL OBSERVASI DIAGNOSA ANAK
DiSusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Diagnostik Anak
Dosen Pengampu : Nur Fauziyah, S.Psi.





Disusun oleh :

         Agari Regen K      A520100017
 
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011
 
BAB I
IDENTITAS

  1. Identitas Subjek
Nama Lengkap            : TP
Jenis Kelamin              : Perempuan
Tempat / Tgl. Lahir     : Klaten, 30 Maret 2007
Agama                         : Islam
Urutan Kelahiran        : Anak ke 3 dari 3 bersaudara
Alamat                                    : Sidomulyo, RT 03/RW 1, Karangdowo, Klaten.
Sekolah                       : TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL Demangan, kelas A
  1. Identitas Orangtua   
Nama Ayah                 : Sm
Umur                           : 45 tahun
Agama                         : Islam
Pendidikan                  : SMA
Pekerjaan                     : Guru (PNS)
Alamat                        : Sidomulyo, RT 03/RW 1, Karangdowo, Klaten.
Suku bangsa                : Indonesia
Nama Ibu                    : SL
Umur                           : 41 tahun
Agama                         : Islam
Pendidikan                  : SMA
Pekerjaan                     : IRT
Alamt                          : Sidomulyo, RT 03/RW 1, Karangdowo, Klaten.
Suku bangsa                :Indonesia


BAB II
PERMASALAHAN

A.    Menurut penulis pada saat observasi awal
Sejak awal kami masuk kelas A subyek terlihat diam saat guru menjelaskan kegiatan, subyek sulit menangkap penjelasan guru tentang cara mewarnai gambar buah belimbing. Anak tidak mau mengerjakan kegiatan mewarnai, ketika didekati guru dan dibimbing untuk mewarnai gambar anak merasa takut dan tidak mau menggambar. Karena pada saat membimbing guru membentak anak tersebut.
B.     Menurut guru kelas
Subyek adalah anak yang kurang mampu untuk mengikuti kegiatan di kelas, anak juga kurang bisa menangkap penjelasan guru tentang kegiatan – kegiatan dikelas, ketika disuruh guru untuk kegiatan menggambar selalu tidak mau, subyek sering keluar kelas pada saat kegiatan dimulai. Subyek kesekolah selalu dianatar jemput oleh orang tuanya, disekolah subyek tidak mau ditinggal pulang oleh orangtuanya, sehingga subyek harus selalu ditunggu disekolah.
C.    Menurut orang tua
Subyek pada saat dirumah ketika ditinggal ibu atau bapaknya pergi sebentar kalau subyek tidak diajak subyek menangis. Apa bila sekolah tidak diantar subyek tidak mau berangkat sekolah dan apa bila mau masuk sekolah subyek disekolah harus ditunggu dan tidak mau ditinggal pulang orangtuanya.









BAB III
DESKRIPSI DATA
A.    Hasil observasi
1.      Observasi kelas
Jumlah murid TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL DEMANGAN kelas A sebanyak 22 orang yang terdiri 12 murid putra dan 10 murid putri. Kelas A berada disebelah ruang kepala sekolah. Keadaan sekolah berdampingan dengan SDN Demangan III, keadaan ruangan kelas cukup baik, fentilasi udara dan pencahayaan dikelas cukup baik sehingga kelas terlihat terang dan nyaman untuk belajar. Tetapi suasana diluar kelas kurang mencukupi, karena tidak ada taman untuk bermain. Arena bermain dihalaman sekolah kurang layak, karena sudah banyak alat bermain yang rusak, contohnya: ayunan yang sudah keropos. Terdapat juga kantin sekolah yang kurang higienis dan kurang sehat.
Bentuk ruang kelas strategis, didalam ruang kelas ada satu meja guru, terletak disamping pintu masuk kelas, 3 (tiga) almari yaitu terdiri 1 (satu) rak almari untuk alat tulis, 2 (dua) almari tempat alat peraga dan alat permainan. Bangku dan kursi sesuai dengan jumlah murit, ada gambar presiden dan wakil presiden, terdapat gambar – gambar pemandangan, tumbuhan, buah – buahan, dan hewan. Terdapat juga poster nama – nama buah, nama – nama alat transportasi dan gambar mengenal warna. Terdapt papan nama yang dibuat dari kreatifitas guru kelas. Perlengkapan penunjang proses belajar mengajar yaitu papan tulis, kapur tulis, dan beberapa alat peraga.
2.      Observasi Subjek
1)      Penampilan Subjek
Bentuk postur tubuh subjek gemuk, agak tinggi, kulit sawo matang, rambut hitam ikal pendek, awal pertama kali bertemu dengan penulis anak tersenyum dengan sedikit malu, saat penulis mendekati dan berjabatan tangan dengan subjek, subjek lari menghampiri ibuknya, lalu subjek menggandeng ibukknya untuk menghampiri penulis dan subjek baru mau berjabatan tangan dengan penulis. Pada saat interview subjek mau mnejawab pertanyaan yang penulis ajukan dengan didampingi ibuk subjek disampingnya.

2)      Prilaku saat di kelas
Subjek adalah anak kelas A “TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL” di Karangdowo, subjek duduk dibangku paling belakang dan duduk sendirian. Ketika kegiatan dimulai dan Do’a pembuka kegiatan, subjek terlihat hanya menggumam dan bersuara pelan, pada saat kegiatan mewarnai gambar buah belimbing. Guru menjelaskan cara mewarnai gambar buah belimbing, subjek tidak fokus dan tidak mendengarkan guru menjelaskan, subjek haya diam sambil bermain jari tangannya. Pada saat disuruh guru untuk mengambil pensil warna di rak subjek tidak mau, dan saat mewarnai gambar subjek paling lambat dan selesai paling akhir sendiri.
3)      Prilaku diluar kelas
Ketika jam istirahat subjek lebih memilih menghampiri ibuknya di kantin sekolah, subjek tidak mau bermain dengan teman – temannya, subjek lebih suka bermain sendiri didekat ibunya. Subjek bermain ayunan sambil bernyanyi – nyanyi dengan pelan – pelan.
3.      Observasi Tempat Tinggal
Ketika penulis berkunjung kerumah subjek, keadaan rumah subjek ramai banyak orang. Orang – orang yang dirumah subjek adalah tetangga subjek, yaitu ibu – ibu yang sedang memetik buah mangga didepan rumah subjek. Subjek pun sedang bermain boneka sendirian disamping rumah. Kondisi rumah subjek cukup sederhana, letak rumah subjek berdampingan dengan rumah tetangga, halaman rumah banyak pohon mangga, di samping kanan rumah subjek yaitu jalan dan ada kebun kosong yang terdapat pohon bambu yang sangat rindang. Jalan menuju  rumah subjek jalannya masih tanah dan licin belum dibangun aspal.
B.     Hasil Interview
1.      Interview dengan subjek
Subjek dikelas hanya diam, ia sendiri duduk dipojok, ia tidak mau mengikuti kegiatan mewarnai gambar, ia lebih memilih bermain mainan yang di bawa dari rumah, ketika diminta guru untuk mewarnai gambar subjek mau dengan terpaksa, karena takut dibentak dan dibilang anak bodoh. Ia tidak mau duduk sebangku dengan temannya karena sering dijailin dan diejek.
Setelah pulang dari sekolah biasanya ia ganti baju, lalu makan siang disuapin ibunya. ia jarang tidur siang dan lebih memilih bermain sendiri diteras rumahnya. Ia tidak suka bermain di rumah tetangga karena takut dimarahi ibunya.
2.      Interview dengan Teman Subjek
Subjek tidak mau bermain bersama – sama, ketika istirahat subjek ikut ibunya, dan bermain sendiri, ketika dikelas subjek duduk sendiri dan tidak mau bergabung dengan teman – teman yang lain. subjek sebenarnya baik tetapi dia minder dan penakut.
3.      Interview dengan Wali Kelas dan Guru
Subjek ketika dikelas tidak mau mendengarkan guru menjelaskan kegiatan, subjek tidak mau ditinggal pulang ibunya, dan subjek minta perhatian lebih. Setiap ada kegiatan kelas ia sering tidak mau mengikuti kegiatan, contohnya kegiatan menggambar atau mewarnai, setiap kegiatan menggambar atau mewarnai subjek harus dipaksa dan saat menggambar subjek sering ketinggalan dan saat mewarnai subjek tidak pernah selesai. Pada saat kegiatan menggunting kertas subjek kurang mampu, saat menghafal tentang do’a – do’a, ia hanya bersuara pelan – pelan, dan ketika disuruh maju kedepan untuk menyanyi subjek tidak mau karena kurang mampu dalam bernyayi.
Menurut wali kelas, subjek kurang bersosialisasi dengan temannya, subjek sering menyendiri  dan dikelaspun subjek duduk sendiri tidak mau bergabung dengan temannya. Ketika jam istirahat subjek lebih memilih ikut ibuknya, saat bermain sendiri kalau subjek diganggu temannya subjek hanya menangis.
4.      Interview dengan Orangtua
Subjek adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, saudara pertamanya laki – laki sudah putus sekolah sejak kelas 1 STM karena tidak mampu mengikuti pelajaran, kakak pertamanya ini berkelainan mental, dan kurang bersosialisasi dengan temannya, cara bicaranya juga agak sulit atau gagap.  Saudara yang kedua juga laki – laki, sekarang masih sekolah di SMP N 3 Karangdowo kelas 1. Sedangkan sebjek sekolah di TK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL Demangan kelas A. Menurut ibu subjek, subjek sangat manja, minta perhatian lebih, tidak mau ditinggal kemana – mana dan sering menangis. subjek juga tidak diperbolehkan main dirumah tetangga kalau belum tidur siang. Menurut ibu subjek, subjek sebenarnya juga tidak mau bermain dengan teman – temannya, karena subjek pada saat bermain bersama – sama subjek pernah bertengkar lalu subjek juga pernah dipukul oleh teman sebayanya, dan pernah dimusuhi karena gara – gara subjek baju dan sepedanya jelek.
Ketika disekolah menurut ibu subjek, subjek tidak mau ditinggal pulang dan harus ditunggu disekolah sampai pulang sekolah, kalau mau berangkat kesekolah harus diantar ibu dan tidak mau orang lain, karena suatu ketika disekolah subjek pernah ditinggal pulang ibunya untuk mengangantar kakaknya dan ibunya tidak berpamitan pada subjek, ketika itu subjek dikelas dijailin teman sebangkunya, pada saat kegiatan mewarnai gambar, pensil warnanya disembunyikan oleh teman sebangkunya. Selain itu tas subjek juga pernah dibuang oleh teman subjek, dan subjek tidak berani mengadu keibu gurunya. Setelah kejadian itu, subjek menjadi trauma, minder, dan takut untuk masuk sekolah. Subjek juga sering menyendiri dan tidak mau bermain dengan temannya lagi.
Menurut ibu subjek selama proses kehamilan, ibu subjek tidak nyidam dan ibu subjek tidak tau kalau sedang mengandung subjek, ibu subjek juga pernah mengalami jatuh kepleset dikamar mandi, juga sempat mengalami pendarahan untungnya subjek yang masih didalam kandungan sehat. Pada proses kelahiran subjek berjalan normal, perkembangan fisik motorik subjek kurang normal, subjek baru bisa berjalan umur 2 tahun. Subjek juga baru bisa bicara umur 2,5 tahun dan sampai saat ini subjek masih susah bicaranya masih cadel.
Kegiatan subjek setelah pulang sekolah adalah ganti baju, makan siang dan kalau subjek tidak rewel mau tidur siang. kalau sore hari subjek baru bermain, biasanya subjek main boneka sendiri di teras rumah. Menurut ibu subjek, subjek kalau malam hari disuruh belajar dan dibimbing ibunya tidak mau, subjek lebih memilih nonton TV kartun sambil tiduran. Subjek mau belajar kalau sudah dibentak ayahnya, itupun karna terpaksa dan takut dengan ayahnya.












BAB IV
LANDASAN TEORI

            Dari hasil observasi interview serta diketahui bahwa subjek kurang percaya diri dan kurang bersosialisasi dengan orang. Sehingga subjek menjadi minder, kurang bergaul dan susah berkomunikasi dengan orang. Subjek mengalami trauma saat disekolah ketika ditinggal ibunya pulang, subjek diganggu temannya. Sehingga subjek menjadi takut untuk berangkat sekolah sendiri. Dan harus ditunggu ibunya sampai kegiatan belajar disekolah selesai. Subjek juga mengalami sulit dalam mengikuti segala kegiatan belajar, terutama kegiatan mewarnai gambar. Subjek mau mewarnai gambar apabila subjek didampingi dan dibimbing ibunya. Dan ketika disuruh guru maju kedepan kelas untuk bernyanyi subjek tidak mau. Disamping itu dalam berbicara subjek kurang lancar berbicara. Subjek juga pernah dibentak dan mendapatkan pemberian ‘label’ bahwa ia bodoh.
Labeling adalah proses melabel seseorang. Label, menurut yang tercantum dalam A Handbook for The Study of Mental Health, adalah sebuah definisi yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut, dan menjelaskan orang dengan tipe bagaimanakah dia. Dengan memberikan label pada diri seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya, dan bukan pada perilakunya satu persatu. Dalam teori labeling ada satu pemikiran dasar, dimana pemikiran tersebut menyatakan "seseorang yang diberi label sebagai seseorang yang devian dan diperlakukan seperti orang yang devian akan menjadi devian. Penerapan dari pemikiran ini akan kurang lebih seperti berikut "anak yang diberi label bandel, dan diperlakukan seperti anak bandel, akan menjadi bandel". Atau penerapan lain "anak yang diberi label bodoh, dan diperlakukan seperti anak bodoh, akan menjadi bodoh". Pemikiran dasar teori labeling ini memang yang biasa terjadi, ketika kita sudah melabel seseorang, kita cenderung memperlakukan seseorang sesuai dengan label yang kita berikan. Misalnya, seorang anak yang diberi label bodoh cenderung tidak diberikan tugas-tugas yang menantang dan punya tingkat kesulitan di atas kemampuannya karena kita berpikir "ah dia pasti tidak bisa kan dia bodoh, percuma saja menyuruh dia". Karena anak tersebut tidak dipacu akhirnya kemampuannya tidak berkembang lebih baik. Kemampuannya yang tidak berkembang akan menguatkan pendapat / label orangtua bahwa si anak bodoh. Lalu orangtua semakin tidak memicu anak untuk berusaha yang terbaik, lalu anak akan semakin bodoh. Anak yang diberi label negatif dan mengiyakan label tersebut bagi dirinya, cenderung bertindak sesuai dengan label yang melekat padanya. Dengan ia bertindak sesuai labelnya, orang akan memperlakukan dia juga sesuai labelnya. Hal ini menjadi siklus melingkar yang berulang-ulang dan semakin saling menguatkan terus-menerus. Bagi banyak orang (termasuk anak-anak) pengalaman mendapatkan label tertentu (terutama yang negatif) memicu pemikiran bahwa dirinya ditolak. Pemikiran bahwa dirinya ditolak dan kemudian dibarengi oleh penolakan yang sesungguhnya, dapat menghancurkan kemampuan berinteraksi, mengurangi rasa harga diri, dan berpengaruh negatif terhadap kinerja seseorang dalam kehidupan sosial dan kehidupan kerjanya.
       Perasaan Takut adalah suatu perasaan yang hakiki dan erat hubungannya dengan upaya mempertahankan diri. Perasaan takut ditandai oleh perubahan fisiologis seperti mata melebar, berhati – hati, berhenti bergerak, badan gemetar, menangis, bersembunyi, melarikan diri atau berlindung dibelakang punggung orang lain. (Jeffrey Gray dalam Eprilia, 2011) mengemukakan beberapa bentuk penyebab rasa takut pada anak diakibatkan oleh adanya rangsangan berupa suara keras, pengalaman menghadapi teman / orang asing, tempat tinggi, kamar gelap, berada seorang diri, rasa sakit atau karena interaksi sosial yang terancam atau marah dengan orang lain. Berkenaan dengan rasa takut ini (Hurlock dalam Eprilia, 2011) mengemukakan adanya reaksi – reaksi yang berkaitan dengan reaksi takut, yaitu Shyness atau rasa malu, embarassment atau merasa kesulitan, khawatir dan anxiety atau cemas. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
a.       Shyness atau malu adalah reaksi takut yang ditandai dengan rasa segan berjumpa dengan orang yang dianggap asing.
b.      Embarassment (merasa sulit, tidak mampu/malu melakukan sesuatu) merupakan reaksi takut akan penilaian orang lain pada dirinya.
c.       Khwatir timbul disebabkan oleh rasa takut yang dibentuk oleh pikiran anak sendiri biasanya mengenai hal-hal khusus. Misalnya, takut dihukum orang tua, takut sekolah, takut teman sebaya, takut dimusuhi, dan sebagainya.
d.      Anxiety atau cemas merupakan perasaan takut sesuai yang tidak jelas dan dirasakan oleh anak sendiri karena sifatnya subjektif. Perasaan cemas dapat membuat anak tidak berani berbuat sesuatu, tidak amu bertemu orang lain, dan tidak mau bersekolah.

























BAB V
DIAGNOSA DAN PROGNOSA

A.           Diagnosa
Dari hasil observasi, interview serta pemeriksaan psikologi bahwa subjek minder dan kurang bersosialisasi sehingga mengakibatkan subjek mengalami gangguan sulit untuk bergaul dengan teman sebayanya dan subjek juga mengalami trauma sekolah sehingga subjek menjadi penakut dan tidak berani sekolah kalau tidak diantar orangtua subjek, subjek sering menyendiri dan sering menghindar dari teman – temannya. Disamping itu cara pola asuh orangtua subjek juga kurang baik dan berlebihan, sehingga subjek menjadi manja dan ingin diperhatikan terus.

B.       PROGNOSA
Prognosa atas kasus subjek bersifat negatif, hal ini dapat dilihat dari:
1.      Faktor Pendukung :
a.       Faktor Internal :
Subjek baik, Subjek mau belajar apabila dibimbing dengan ekstra dan diberi motifasi.
b.      Faktor eksternal :
Guru berusaha membimbing dengan baik dan sabar, serta memberi setimulasi khusus dan terapi guna membantu subjek untuk mengurangi rasa takut dan minder dengan orang lain.
2.      Faktor penghambat
a.       Faktor internal :
·         Kurangnya rasa percaya diri subjek sehingga subjek menjadi minder, kurang berani untuk menghadapi orang lain. dan juga adanya rasa trauma disekolah sehingga subjek tidak berani berangkat sekolah sendiri tanpa didampingi orangtua.
b.      Faktor eksternal :
·         Kurang tepatnya pola asuh orangtua subjek.
·         Adanya pemberian ‘label’ bodoh sehingga subjek menjadi malas untuk mengikuti kegiatan menggambar.














BAB VI
TREATMENT DAN SARAN

A.    Treatmen
1.      Treatmen yang telah dilakukan oleh wali kelas adalah :
a.       Memanggil orang tua subjek untuk membahas permasalahan subjek.
b.      Mendekati subjek untuk mencari informasi mengenai penyebab subjek sering menyendiri dan penyebab kesulitan dalam mengikuti kegiatan.
c.       Memberikan bimbingan dan stimulasi dari segi fisik, motorik dan sosial kepada subjek. Agar subjek mau mengikuti kegiatan disekolah seperti menggambar, mewarnai, menghafal do’a – do’a dan berani maju kedepan kelas untuk menyayi.
2.      Treatmen yang telah dilakukan oleh penulis :
a.       Menjalin komunikasi dan pendakatan secara akrab dengan subjek. Hal ini dimaksudkan untuk mencari informasi penyebab kurangnya rasa percaya diri subjek, serta rasa minder dan rasa trauma disekolah sehingga mengakibatkan subjek tidak mau berangkat sekolah sendiri tanpa didampingi orangtua.
b.      Memberi dukungan dan motivasi kepada subjek, Sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya diri subjek, serta dapat mengurangi rasa trauma subjek.
B.    Saran
1.      Kepada Wali Kelas dan Guru
a.       Guru diharapkan mampu mempererat jalinan komunikasi antar keluarga subjek dengan pihak sekolah.
b.      Guru mengadakan laporan rutin melalui buku laporan perkembangan anak kepada keluarga subjek,  sehingga keluarga tau perkembangan subjek disekolah.
c.       Wali kelas dan guru – guru lain diharapkan tidak memberi label negatif kepada subjek.
d.      Guru juga harus menghindari pabrik kata TIDAK BOLEH dan JANGAN kepada subjek.
e.       Penting sekali guru selalu berkata positif tentang subjek, agar subjek jadi berfikir positif tentang dirinya dan bertumbuh dengan harga diri yang tinggi dan perasaan dicintai dan diterima.
2.      Kepada Orang Tua
a.       Orang tua sebaiknya juga ikut berperan dalam membimbing anak setelah anak pulang dari sekolah.
b.      Orang tua wajib mendidik anak seutuhnya karena orang tua merupakan orang terdekat dari subjek.
c.       Diharapkan orang tua mau mengikuti konseling di sekolah subjek agar dapat mengetahui permasalahan, kekurangan, dan kelebihan subjek di sekolah.
d.      Orang tua harus memiliki ide – ide yang berguna bagi subjek contohnya orang tua dapat menciptakan permainan yang dapat membantu kreatifitas subjek.
e.       Orang tua harus mempunyai komunikasi yang bagus dengan pengajar atau guru subjek karena keberhasilan belajar tidak hanya tergantung pada guru saja tetapi peranan terpenting adalah orang tua.


















 NB:bagi yang mau coppy  paste harap hubungi saya...jangan BUDAYAKAN PLAGIAT....!!!!